Tuesday, January 8, 2008

Obama Masih Ungguli Hillary


NEW HAMPSHIRE, SELASA - Jajak pendapat terbaru dalam kampanye Presiden Amerika Serikat (AS) mengindikasikan, Barack Obama, kandidat dari Partai Demokrat, kembali diunggulkan dalam Primary di New Hampshire, Selasa (8/1).

Jajak pendapat yang dilansir USA Today/Gallup, Senin (7/1), menyebutkan Obama unggul dua digit atas saingan utamanya, Hillary Clinton. Obama memimpin 41 persen sementara Hillary hanya bercokol pada 28 persen.


Sementara mantan senator North Carolina, John Edwards sebanyak 19 persen, disusul Gubernur New Mexico, Bill Richardson enam persen, dan kandidat lainnya hanya di bawah tiga persen.

Sementara dari kubu Partai Republik, John McCain meraih dukungan 34 persen mengungguli pesaingnya yang menang dalam pemilihan pendahuluan di Iowa, Mike Huckabee, yang hanya 13 persen. Sementara Mitt Romney meraih 30 persen.

Anggota DPR dari Texas Ron Paul dan mantan Wali Kota New York Rudy Giuliani masing-masing hanya meraih delapan persen dukungan. Sementara yang lainnya termasuk mantan senator dari Tennessee Fred Thompson, hanya di bawah tiga persen.

Seperti dilansir BBC, medan pertarungan utama sebenarnya adalah besarnya warga pemilih nonpartai yang bersikap independen.

Sementara itu, kendati Hillary berusaha pulih dari kekalahannya di Iowa, namun tantangan yang dihadapinya di New Hampshire kian berat dengan jajak pendapat tersebut. Sebelumnya, Hillary berada di posisi teratas di negara bagian ini, sehingga jika tak berhasil menang, dia akan dianggap gagal.

Dari jajak pendapat terakhir ini, Hillary diperkirakan akan kalah lagi dari Obama. Bila itu terjadi, kubu Hillary akan berada dalam posisi yang sangat lemah.




Sumber: BBC



Selengkapnya......

The Scret of Nusantara (II) The Last Stronghold


Pada abad ke-11 M dimulailah rangkaian konflik antar pemeluk agama yang dikenal sebagai Perang Salib (Crusade Wars). Diawali dengan perintah Paus (Pope) Urbanus II untuk menguasai Yerusalem yang berada dalam wilayah pemerintahan Islam. Gelombang peperangan terus berlangsung selama berabad-abad kemudian dan tahun meluas ke wilayah-wilayah lain. Konflik yang terjadi dalam Perang Salib sebenarnya tidak hanya melibatkan dua pemeluk agama tersebut karena dalam beberapa seri Perang Salib berikutnya tentara Salib juga terlibat konflik dengan pihak-pihak di luar kaum Muslim yang menjadi lawan utama.


Bagi Crusaders (tentara Salib) dan kaum Muslim, peperangan yang terjadi meninggalkan kesan yang tidak terlupakan pada masing-masing pihak. Bagi orang-orang Eropa, kekalahan pada Perang Salib terhadap Salahuddin Al Ayubi/ Saladin (Ayubbid Empire) dan kemudian terhadap Turki Utsmani (Ottoman Empire) menimbulkan kekecewaan yang mendalam. Hal ini mendorong lahirnya Renaissance Eropa pada abad ke-15. Sistem keagamaan yang dinilai menghambat kemajuan mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya mereka mengharapkan pencapaian seperti dominasi Yunani-Romawi sebelum zaman Kristen dengan cara mengembangkan kemajuan-kemajuan yang telah dipelajari sebelumnya dari orang-orang Arab, di antaranya adalah pada pada bidang geografi, teknologi maritim, navigasi dan persenjataan.

Para perintis Renaissance bergerak ke Eropa barat menjauhi pengaruh Turki Utsmani yang telah menguasai Konstantinopel (Constantinople/ Istambul) dan sekaligus menjauhi pusat kekuasaan Kepausan/ Gereja Katholik. Dan ketika Renaissance mencapai puncaknya, orang-orang Portugis dan Spanyol di yang berada di ujung barat Eropa, siap memulai ekspansi ke seluruh dunia, baik dengan motif ekonomi, politik, maupun agama.

Inilah permulaan dari era yang disebut oleh orang-orang Eropa sebagai Age of Discovery. Target pertama adalah India sebagai starting point untuk menjelajahi dunia Timur yang misterius. Orang-orang Spanyol tertarik dengan ide Christopher Columbus menyatakan bahwa berdasarkan perhitungan-perhitungan terhadap diameter Bumi, India dapat dicapai melalui pelayaran ke Barat (Samudera Atlantik) sedangkan orang-orang Portugis meragukan efektivitas pelayaran melalui Atlantik dan tetap berusaha mencapai India dengan mengelilingi Afrika.

Selanjutnya Columbus melakukan ekspedisi menyeberangi Atlantik dan yang mencapai Amerika Tengah (yang pada awalnya dikiranya adalah India) pada tahun 1492. Melihat hasil ekpedisi Colombus, Spanyol (Castile Kingdom) dan Portugal menyepakati perjanjian Tordesillas, yang menyatakan bahwa Spanyol berhak atas ekspansi melalui arah barat (samudera Atlantik) sedangkan Portugal melalui arah timur (Afrika dan Samudera India). Maka Spanyol mengirim Ferdinand Magellan (Fernão de Magalhães) menuju ke barat hingga ia tiba di Filipina. Sedangkan Portugal mengirim Bartolomeu Dias dan Vasco da Gamma untuk membuka jalur mengelilingi Afrika menuju ke India. Dengan perjanjian ini maka Portugal tidak memiliki pesaing dalam dominasi jalur laut Eropa-Afrika-Asia.

Setelah orang-orang Eropa mencapai India maka ekspansi ke Timur dilanjutkan ke wilayah yang mereka baru ketahui keberadaannya. Mereka menyebutnya India Timur (East Indies). Untuk itu, pada awal abad ke-16 M, Raja Portugal, Manuel I, menunjuk seorang panglima Crusaders yang bertugas di Afrika Utara untuk memimpin angkatan laut Portugal melakukan kampanye militer menguasai jalur pelayaran Samudera Hindia dan membuka India Timur. Ia bernama Alfonso de Albuquerque. Dengan pasukannya yang dipimpinnya ia kemudian menguasai Pesisir Timur Afrika, Teluk Persia dan India. Ia kemudian bergerak ke timur dan pada tahun 1511 tiba di Selat Malaka dan seketika itu juga ia menyerang Kesultanan Melaka. Suatu hal yang tidak lazim dilakukan pada kontak pertama antara dua perdaban yang berbeda. Ia kemudian mengambil khazanah kekayaan kerajaan di antaranya adalah 3.000 buah meriam milik Kesultanan Melaka.

Hal ini memiliki beberapa arti sekaligus. Secara ekonomi, hal ini berarti orang-orang Portugis menguasai perdagangan rempah-rempah dan komoditas lain langsung dari sumbernya yaitu Nusantara. Sebelumnya mereka mendapatkan komoditas ini dari perdagangan di Timur Tengah dan ketika terjadi konflik dengan pengasa wilayah ini maka suplai ke Eropa akan terganggu. Secara politik, hal ini meluaskan wilayah kekuasaan Portugis (Portugesse Empire) yang meliputi pesisir barat, selatan dan timur Afrika, teluk Persia, India dan kemudian Selat Malaka. Dan sebagai seorang Crusader, ini merupakan prestasi yang sangat besar mengingat seluruh wilayah yang ia serang adalah wilayah kerajaan-kerajaan Islam. Karena itu, serangan Portugis terhadap Melaka segera mendapat reaksi dari kerajaan Islam lain di Nusantara, terutamanya Kesultanan Demak di Jawa. Peristiwa ini juga menandai mulainya masa penjajahan di Nusantara. Hal ini kemudian diikuti oleh bangsa bangsa Eropa lain.

Pada periode yang bersamaan cahaya Islam yang sebelumnya telah menaungi 3/4 dunia, secara umum mulai memudar. Perlu diketahui bahwa sejak kedatangan Nabi Muhammad SAW hingga ke saat ini, perkembangan Islam dapat dibagi menjadi dua periode. Periode pertama adalah 700 tahun pertama Hijriyah. Dalam periode ini terdapat zaman Salafussoleh, 300 tahun pertama yang disebut oleh Rasulullah sebagai sebaik-baik kurun. Islam menuju mencapai kejayaannya dan menyebar ke suluruh dunia. Kemajuan dalam iman dan ilmu telah menjadikan umat Islam sebagai Pole of Excellent. Pencapaian terakhir periode ini adalah keberhasilan Sultan Muhammad Al Fateh (Mehmed II The Conqueror) menutup sejarah 1500 tahun kekaisaran Romawi dengan menyerahnya ibukota Byzantium/ Romawi Timur, Konstantinopel.

Periode kedua adalah 700 tahun berikutnya. Pada perode ini pengamalan Islam mulai menurun drastis, berbagai perkara mulai hilang satu persatu. Jika sebelumnya kerusakan umat hanya terjadi pada bidang-bidang tertentu maka pada periode ini kemunduran umat Islam terjadi serentak di semua bidang. Dari krisis keimanan, ibadah, akhlak, pemerintahan, kemunduran ilmu hingga hilangnya faktor-faktor keberkatan dan bantuan Tuhan secara khawariqul addah (kejadian luar biasa). Jika ada yang tersisa, tidak lebih dari ritual ibadah harian, mingguan dan tahunan saja.

Namun ternyata pada periode inilah wilayah Nusantara memainkan peranan penting sebagai benteng pertahanan yang kuat bagi umat Islam dan ajaran Islam. Sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, bahwa imperialisme Eropa pada abad pertengahan memliki tujuan ekonomi, politik dan agama sekaligus. Lebih dikenal dengan istilah 3G: Gold, God/Gospel, Glory. Namun sungguh ajaib. bangsa Melayu tetap menjadi bangsa Muslim dengan jumlah terbesar dan menyatu walaupun mengalami penjajahan selama hampir empat abad. Berkebalikan dengan apa yang terjadi di kawasan lain, misalnya Spanyol/Andalusia yang telah kehilangan identitasnya sebagai bangsa Muslim atau bangsa Arab yang kini telah terpecah-pecah seolah kembali ke sistem kesukuan (tribal state) zaman jahiliyah (pra Islam). Di Nusantara, Islam terus berkembang pesat dan menjadi pendorong bagi berbagai perlawanan terhadap penjajah. Sebagai contoh adalah Perlawanan Pangeran Diponegoro yang perlawanan terberat yang dihadapi Belanda. Pangeran Diponegoro adalah putra raja Jawa, Sultan Hamengkubuwono III, yang menolak menjadi putra mahkota dan kemudian menjadi ulama tarekat Naqsyabandiyah. Begitu juga dengan berbagai ulama di daerah lain. Perlawanan-perlawanan mereka yang didorong motivasi spiritual untuk membela kebenaran dan bukan kepentingan diri atau kelompok semata, selalu menjadi ancaman no.1 terhadap penjajah.

Tidak hanya berperan besar dalam menghadapi ancaman langsung dari luar berupa penjajahan dan berbagai interfensi asing, namun juga berperan besar dalam menghadapi berbagai pergolakan di antara umat Islam sendiri hasil campur tangan pihak asing. Di antaranya adalah konflik politik dan madzhab yang terjadi pada abad ke-18 di Hijaz yang membawa dampak ke seluruh dunia Islam. Karena antara mazdhab baru yang mendapat dukungan pemerintahan baru di Makkah dan Madinah, dengan madzhab-madzhab klasik yang telah mapan terdapat perbedaan tidak hanya pada perkara furu’ (cabang)
yaitu fiqh syariat, namun juga dalam beberapa perkara pokok aqidah/ iman, maka mayoritas ulama di seluruh dunia menolak kehadiran madzhab baru ini. Di Nusantara, pada tahun 1926, para ulama yang dipimpin oleh Syeikh Hasyim Asy’ari mendeklarasikan berdirinya Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) yang dengan tegas mempertahankan pengamalan keempat madzhab fiqh yang telah ada (madzhab Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Hambali) berserta pegangan aqidah atau keimanannya: Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dengan 45 juta pendukungnya saat ini, Nahdatul Ulama (NU) adalah organisasi Islam terbesar di dunia.

Perbagai peristiwa telah terjadi sepanjang sejarah Islam di Bumi Nusantara. Hingga ke saat ini, dapat kita saksikan bahwa saat ini semangat pengamalan ajaran Islam di kawasan Asia Tenggara oleh rumpun bangsa Melayu terlihat paling kuat dibandingan dengan kawasan lain di dunia termasuk di Timur Tengah atau bahkan kedua kota suci Makkah dan Madinah. Fenomena ini mulai tampak jelas sejak memasuki kurun (abad) baru yaitu tahun 1400 H (1979 M) terutama di Malaysia, juga Indonesia. Walaupun tiada henti mendapat tantangan dari luar secara aqidah, pemikiran, budaya, politik, ekonomi dan sebagainya namun kemudian pengamalan Islam sepanjang awal kurun Hijriyah ini terus berkembang dengan pasti.

Sejarah telah mencatat bahwa bara api Islam telah menyala dan tetap terus membara dalam dekapan bangsa Melayu di Bumi Nusantara selama 700 tahun. Selama 700 tahun itu pula wilayah Nusantara menjadi incaran berbagai pihak untuk ditundukkan dan dikuasai. Namun bangsa Melayu tetap bertahan sebagai bangsa Muslim dengan jumlah dan potensi yang begitu besar untuk mengkuti jejak bangsa-bangsa muslim lain yang sebelumnya telah satu per satu tampil ke depan pentas dunia untuk memimpin langsung peradaban Islam. Bangsa Melayu adalah satu-satunya bangsa muslim yang belum mendapatkan gilirannya. Dan sekaranglah saatnya, giliran Timur untuk membuka dan memimpin periode Islam selanjutnya sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW:


Selengkapnya......

The |Secret of Nusantara (1) Blood of the Prophet


Hampir bersamaan dengan itu, salah seorang ahlul bait keturunan ke-31 dari Sayidina Hussain (cucu Nabi Muhammad SAW) yang lahir dan dibesarkan di daratan Cina, mengadakan ekpedisi pelayaran ke berbagai tempat di dunia, dan secara satah satunya khusus datang ke Nusantara dengan puluhan kapal bersama hampir 30.000 orang anggota armadanya. Inilah satu ekpedisi pelayaran terbesar dalam sejarah. Dia bernama Zheng He, dan lebih terkenal dengan nama Laksamana Ceng Ho. ‘Show force’ Laksamana Ceng Ho dengan armadanya yang luar biasa besar namun membawa misi perdamaian, membantu menstabilkan kondisi politik kerajaan-kerajaan di Nusantara setelah memudarnya kejayaan Majapahit pasca Gajah Mada dan juga membantu memperkenalkan Islam sebagai agama yang damai dan universal. Dengan demikian perkembangan Islam menjadi semakin pesat dan berwibawa.


Maka kemudian datang gelombang Ahlul Bait pada abad ke-18 M. Hal ini juga didorong oleh terjadinya serangan di Hijaz oleh Muhammad ibn Saud (Bani Saud) dan Muhammad ibn Abdul Wahhab yang di kemudian hari lebih banyak disebut sebagai gerakan Wahabi (Wahhabism). Serangan ini didukung oleh Inggris yang berkepentingan untuk menjatuhkan Turki Utsmani dan kemudian memicu konflik antara Turki Utsmani dan dinasti Saud (Ottoman-Saudi War) setelah sebelumnya mengakibatkan terusirnya kalangan Ahlul Bait dari Hijaz. Sebagian ada yang berpindah ke utara dan mendirikan kerajaan Bani Hasyim/Al Hasyimi di Yordania (The Hashemite Kingdom of Jordan) dan sebagian bergerak ke timur menuju Nusantara.

Berbeda dengan para pendahulunya yang telah berbaur dengan ras Melayu, mereka yang datang pada periode ini lebih mudah dikenali secara fisik sebagai sebagai keturunan Arab. Dan umumnya mereka juga mengekalkan marga-marga ahlul bait hingga ke saat ini. Juga lazim dikenal sebagai panggilan Sayyid, Syarif, Habib, Wan, Tok, Tengku dan lain sebagainya.

Inilah salah satu keajaiban bangsa Melayu, darah Rasul telah mengalir dalam darah mereka dan mengalirkan keberkahan tersendiri. Rupanya orang-orang muslim terdahulu, khususnya dari kalangan Ahlul Bait terdahulu dengan sangat serius dan terarah menyiarkan dakwahnya ke Bumi Nusantara. Menjadikan bangsa Melayu menjadi bagian dari keluarga besar Nabi Muhammad SAW, seolah-olah Bumi Nusantara di Timur ini adalah tanah air kedua bagi Islam dan keluarga yang mulia ini. Terlebih setelah mereka terusir dari tanah airnya sendiri. Bahkan ada sumber sejarah yang mengatakan bahwa Mahapatih Gajah Mada, ‘pendiri’ Nusantara yang misterius itu, tidak lain adalah salah seorang muslim dari kalangan Ahlul Bait. Wallahu ‘alam.

“Kami Ahlul Bait telah Allah pilih untuk kami akhirat lebih daripada dunia. Kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran selepasku kelak hingga datanglah Panji-panji Hitam dari Timur. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikan. Maka mereka pun berjuang dan memperoleh kejayaan. Siapa di antara kamu atau keturunanmu yang hidup pada masa itu, datangilah Imam dari ahli keluargaku itu walaupun terpaksa merangkak di atas salju. Sesungguhnya, mereka adalah pembawa Panji-panji Al Mahdi. Mereka akan menyerahkannya kepada seorang lelaki dari ahli keluargaku yang namanya seperti namaku, dan nama ayahnya seperti nama ayahku. Dia akan memenuhi dunia ini dengan keadilan dan kesaksamaan..” (H.R. Abu Daud, At-Tarmizi, Al-Hakim, Ibnu Hibban, Ibnu Majah, Abus Syeikh, Ibnu Adi, Abu Dhabi, Ibnu Asakir & Abu Nuaim)

Selengkapnya......

Thursday, January 3, 2008

Benazir Bhutto, Perginya Seorang Wanita Tangguh


Lahir di tengah keluarga kaya di Pakistan pada 21 Juni 1953, Benazir Bhutto, terdidik sebagai wanita tangguh dan berambisi membangun karir di bidang politik. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Harvard dan Oxford pada 1977, dia masuk ke Partai Rakyat Pakistan dengan kekuatan nama ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto.

Ayahnya yang pernah menjabat sebagai orang pertama di Pakistan, merupakan pendiri partai tersebut. Zulfikar juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Pakistan pada periode 1971-1977.

Pada saat pemilu pertama perdana menteri di 1988, Bhutto terjegal oleh kasus korupsi yang dilakukan oleh presiden setelahnya pada 1990. Namun, dia kembali berkuasa pada1993, setelah penggantinya, Nawaz Sharif, didesak mundur. Pada kepemimpinan keduanya sebagai PM Pakistan, langkah Bhutto tidak sesukses sebelumnya. Sharif kemudian kembali berkuasa pada 1996. Bahkan, pada 1999, Bhutto dan suaminya, Asif Ali Zardari, dihukum penjara selama 5 tahun.


Bhutto yang pernah menjadikan suaminya sebagai menteri keuangan periode 1993-1996 itu, pergi ke luar negeri dan memilih tidak kembali ke Pakistan. Pada 2006, Bhutto bergabung dengan Aliansi Untuk Pemulihan Demokrasi bersama mantan rivalnya, Sharif. Tapi ketidaksetujuannya atas strategi persetujuan antara Presiden Militer, Pervez Musharraf, membuat Bhutto memutuskan untuk berunding dengan Musharraf, meski Sharif tidak setuju.

Bhutto kembali ke Pakistan pada Oktober 2007. Kedatangannnya saat itu disambut dengan serangan bom bunuh diri saat menuju Karachi, tak lama setelah turun dari pesawat. Akibatnya, 139 pendukung dan pengawalnya meninggal.

Saat mendapat serangan tersebut, Bhutto semp[at mengirimkan surat berisi daftar panjang musuhnya kepada Presiden Pervez Musharraf. Bhutto menyebutkan tiga individu atau lebih yang harus diselidiki seandainya dia terbunuh. Selain itu, atas perkiraan Bhutto sendiri, tidak kurang dari empat kelompok berbeda menginginkan kematiannya saat kembali ke Pakistan (Times Online, 20/10).

Satu kelompok bunuh diri dari elemen Taliban, satu kelompok dari Al Qaeda, satu kelompok dari Taliban Pakistan, dan satu kelompok dari Karachi. Hal itu terkait dengan pernyataan Bhutto yang akan mengizinkan pasukan Amerika berperang di Pakistan jika situasi di wilayah suku-suku di perbatasan Pakistan-Afganistan makin memburuk. Dukungan terhadap AS dianggap sebagai posisi tidak populer di Pakistan.

Sebelumnya kematiannya, Bhutto memang telah menerima ancaman pada Selasa (23/12) lalu. Namun ia menyatakan akan tetap mengadakan rangkaian kampanye ke berbagai daerah di Pakistan. Partai Rakyat Pakistan memutuskan akan memakai strategi "menjemput bola", begitu dalihnya.

Lima hari setelah ledakan bom di Karachi, Partai Rakyat Pakistan yang dipimpin Bhutto sempat memutuskan akan menghindari kampanye atau rapat akbar yang dapat menarik massa. Mereka khawatir akan kembali terjadi ledakan bom bunuh diri. Namun, partai telah memutuskan lain.

"Sesuai keputusan dari partai, saya akan berkampanye dalam beberapa hari mendatang. Mulai dari Karachi, Lahore, atau Larkana (daerah kelahiran Bhutto) ke Islamabad. Kami memakai cara ’jemput bola’ calon pemilih ke provinsi lain," kata Bhutto kala itu.

Keputusan tetap berkampanye keliling Pakistan itu seakan tidak memedulikan ancaman serangan terhadap Bhutto. Surat ancaman berbahasa Urdu itu menyatakan akan membunuh Bhutto ’di mana pun dan kapan pun ada kesempatan’. Surat yang ditandatangani pemimpin serangan ledakan bom bunuh diri dan teman Al Qaeda dan Osama bin Laden. Saat ini ancama tersebut menjadi kenyataan dan Bhutto pun tewas.


Selengkapnya......

AS Diprediksi Bakal Boikot Musharraf

JAKARTA, PERSDA - Kematian Bhutto akibat bom, bisa membuat Amerika Serikat menjadi berang. Bahkan, tidak menutup kemungkinan AS segera melakukan intervensi baik secara politik maupun ekonomi, terutama kepada pemerintahan Musharraf.

Prediksi itu, diungkapkan pengamat intelijen Dynno Chressbon kepada Persda, Kamis (27/12) malam. Apalagi sebelumnya, Menteri Luar negeri AS Condoleezza Rice telah memberikan ancaman kepada Musharraf. Salah satu ancamannya, jika Musharraf tetap tidak memberikan ruang politik kepada Bhutto, maka AS akan memberikan sanksi politik. "Saya menduga reaksi politik luar negeri AS akan memberikan tekanan internasional langsung dengan memboikot kepemimpinan Musharraf," kata Dynno.



Menurut Dynno, tewasnya Bhutto dalam serangan bom bunuh diri di Rawalpindi, Pakistan, Kamis (27/12) adalah puncak dari situasi panas di Pakistan. Dalam tiga bulan terakhir, Bhutto sudah mensinyalisasi bahwa ia akan dibunuh oleh kelompok intelejen militer Pakistan yang diduga berafiliasi dengan Presiden Pakistan, Jenderal Pervez Musharraf. "Almarhum dihabisi karena aktivitas politik Bhutto yang dianggap mengancam secara langsung keberadaan Musharraf di Pakistan. Dan sinyalamen Bhutto dengan adanya ancaman serius terhadap dirinya itu kini terbuktikan," tuturnya.

Sebelumnya, dalam dua minggu terakhir, Bhutto selalu mendesak agar internasional melakukan investigasi untuk membongkar konspirasi intelejen militer di Pakistan. Dia menekankan bahwa konspirasi tersebut sengaja direkayasa agar situasi Pakistan menjadi tidak stabil. Dan untuk membuktikan bahwa skenario itu benar, Bhutto meminta Musharraf segera mundur dari jabatannya sebagai panglima militer. "Dan saya pikir permintaan Bhutto itu disampaikan dengan estimasi jika Musharraf tidak memiliki otoritas militer, maka kelompok-kelompok militer intelejen Pakistan yang pernah pro kepada Taliban, akan bisa diisolasi," lanjut Dynno.

Instrumen intelejen Pakistan yang selama ini memiliki akses kepada kelompok organisasi- organisasi pendukung Taliban, sudah putus asa menghadapi manuver Bhutto.

Bagaimana situasi Pakistan pasca tewasnya Benazir? Dynno memprediksikan bahwa kematian Bhenazir akan membuat situasi di Asia Selatan, terutama di Pakistan semakin memburuk menjelang rencana pemilihan presiden. "Hal itu terjadi karena pendukung partai persatuan rakyat yang dipimpin Bhutto sangat kuat," katanya.



Selengkapnya......

Scotland Yard Selidiki Kematian Benazir


Scotland Yard Selidiki Kematian Benazir

Tim penyelidik dari Kepolisian Inggris, Scotland Yard, akan membantu penyelidikan pembunuhan Benazir Bhutto. Kabar tersebut disampaikan sendiri oleh Presiden Pakistan Pervez Musharraf, Rabu (2/1).

"Tim penyelidik itu akan segera datang ke Pakistan untuk membantu penyelidikan yang sedang kita lakukan," tutur Musharraf dalam pidato yang disiarkan televisi secara nasional. Bantuan tersebut dibutuhkan, kata Musharraf yang masih menyebut pembunuhan itu didalangi teroris, karena keterbatasan pihak penyelidik Pakistan dalam bidang forensik.



Keterlibatan Scotland Yard dalam penyelidikan diharapkan bisa menepis keraguan atas kematian Benazir pada Kamis lalu usai berkampanye. Namun, keputusan Musharraf tersebut dilecehkan suami Benazir, Asif Ali Zardari. "Sekarang pemerintah baru ingat Scotland Yard. Mengapa keputusan itu tidak diambil saat serangan bom di Karachi?" kata Zardari.

Serangan bom bunuh diri terhadap Benazir pada 18 Oktober 2007 menewaskan 139 orang. Serangan itu dilakukan saat Benazir tiba di negerinya setelah diasingkan pemerintah di Inggris. Suami Benazir itu malah menginginkan penyelidikan dilakukan oleh penyelidik dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), seperti penyelidikan atas pembunuhan mantan PM Lebanon Rafiq Hariri.

Sebab musabab kematian Benazir memang masih menjadi kontroversi hebat. Kalangan oposisi meragukan hasil penyelidikan pemerintah yang menyimpulkan bahwa pangkal kematian Benazir adalah cedera kepala parah akibat terbentur jendela atas mobil (sunroof) saat ia mendadak menunduk untuk menghindari ledakan bom.

Namun, kalangan pendukung Benazir yakin bahwa ia tewas karena ditembak sesaat sebelum pelaku bom bunuh diri meledakkan dirinya. Pembunuhan Benazir tersebut menyulut kerusuhan di berbagai belahan Pakistan, sehingga pemerintah mengundurkan jadwal pemilu parlemen dari 8 Januari menjadi 18 Februari 2008. (AFP/Put)


Selengkapnya......

Tiga Kandidat Demokrat Lancarkan Pukulan Terakhir

Pemilu AS
Tiga Kandidat Demokrat Lancarkan Pukulan Terakhir
DES MOINES, KAMIS - Tiga calon presiden AS dari Partai Demokrat Barack Obama, Hillary Rodham Clinton dan John Edwards menutup kampanye mereka untuk Kaukus Iowa, Rabu (2/1) malam dengan pesan singkat di televisi. Namun pesan singkat itu diupayakan semantap mungkin.

Obama, misalnya, menyampaikan AS perlu pemimpin yang mampu menggalang kebersamaan. Senator Illinois yang ingin menjadi presiden kulit hitam AS pertama itu menambahkan, kebersamaan adalah satu-satunya cara memenangkan pemilu. "Begitulah caranya kita memperbaiki layanan kesehatan, membuat universitas bisa dicapai, energi tidak tergantung negara lain dan mengakhiri perang," kata Obama dalam siaran televisi selama dua menit yang disiarkan saat makan malam.



Clinton yang ingin menjadi presiden perempuan pertama tak mau kalah. "Kalau anda berdiri bersama saya semalam, saya akan berdiri untuk anda tiap hari sebagai presiden anda. Saya akan menyerahkan seluruh hati saya untuk membawa awal baru bagi negeri tercinta ini dan saya akan mulai pada hari pertama," kata Clinton.

Sedangkan Edwards meminjam mulut Doug Bishop, buruh yang dipecat perusahaan Maytag, untuk melayangkan pukulan terakhirnya. "Saya menginginkan seseorang yang mau jongkok, menatap mata bocah tujuh tahun dan berkata, `Saya akan memperjuangkan pekerjaan untuk ayahmu,’" kata Bishop ketika memperkenalkan Edwards pada massa.

"Itulah keinginan saya. Saya akan lakukan yang terbaik untuk memastikan anak-anak saya bukan generasi AS pertama yang tidak bisa saya tatap matanya dan saya beritahu, "Hidupmu akan lebih baik dari saya,’" tambah Bishop.

Kata-kata pemukul terakhir itu harus mereka ucapkan sebagai upaya terakhir untuk meyakinkan para pemilih sebelum masuk Kaukus Iowa Kamis. Dalam jajak pendapat terakhir Obama unggul tipis dari Clinton dan Edward mendapat posisi ketiga. Kaukus Iowa sangat penting untuk menentukan hasil akhir di konvensi partai beberapa bulan mendatang.

Persaingan di Partai Republik untuk memperebutkan tiket calon presiden semakin sulit dipredikis. Seperempat calon pemilih di kaukus mengaku belum menentukan pilihan, pada Mitt Romney atau Mike Huckabee. Dalam kondisi demikian kampanye menjadi sangat penting, apalagi saat ini sebagian besar Iowa ditutup salju yang pasti akan menghambat orang pergi ke tempat pemungutan suara (TPS).

Di sinilah terjadi adu strategi untuk mengingatkan para calon pemilih agar mau pergi ke TPS. Di antaranya yang dilakukan tim kampanye Romney. Hanya pada hari Minggu (30/1) saja, mereka sudah 12.000 kali menelepon untuk mengingatkan calon pemilih. Tetapi, akhirnya kondisi ini pun memicu munculnya cara-cara kotor, misalnya ada tim kampanye yang sengaja menelpon calon pemilih untuk disesatkan ke TPS yang salah.(AP/SAS)

Selengkapnya......